Tiba di Kota Yangon, Myanmar

0
466
views

Sejujurnya, Myanmar ini tidak masuk dalam list destinasi saya dalam waktu dekat ini, hanya karena rencana mau ke Chiang Rai akhirnya saya memasukkan Myanmar sebagai tambahan negara tujuan karena letaknya berada di sebelah Thailand agar perjalanan saya menjadi lebih panjang mengingat Thailand Utara termasuk kecil untuk dijelajahi.

bandara2
Bandara Yangon International

Setelah transit 3 jam di Bangkok, saya tiba di Yangon International Airport jam 18.40. Ketika di bagian imigrasi, saya harus mengisi form kedatangan. Yang harus diingat adalah jatah stay di Myanmar hanya boleh 14 hari saja. Selain itu pastikan alamat tempat tinggal/penginapan ditulis lengkap untuk menghindari banyak pertanyaan dari petugas imigrasi.

bandara1
Kebiasaan warga Myanmar menggunakan sarung

Saat itu hari masih cukup terang untuk melihat dengan jelas para pria bersarung berebutan penumpang di bagian luar pintu bandara. Mereka dengan ramah menawarkan tumpangan dari bandara ini ke pusat kota, mirip dengan negara-negara Asean lainnya. Cukup aneh melihat banyak orang mondar mandir di bandara menggunakan sarung. Tua, muda, laki-laki dan perempuan menggunakan sarung dengan berbagai macam motif dan warna. Saya segera menebak bahwa sarung untuk perempuan bermotif bunga-bunga dengan garis-garis benang warna keemasan dan laki-laki menggunakan motif kotak-kotak, polos atau garis-garis lurus. Sedangkan warna untuk perempuan mayoritas berwarna terang, untuk laki-laki sebaliknya. Yang bikin saya takjub lagi adalah hampir semua warga lokal di bandara itu punya tanda kuning muda di kedua pipinya. Bentuknya bermacam-macam. Ada kotak, bulat atau memanjang. Mereka seperti menggunakan blush on tapi pakai bedak. Bedaknya mirip bedak dingin. Kalau di kampung opung saya, bedak dingin dipakai merata ke semua wajah, nah kalau di Myanmar cara pakainya di permanis karna dipakai ke bandara, kantor atau nge-mall…

Tujuan saya malam ini adalah 21 Hostel. Penginapan yang sudah saya booking via booking.com sebelum berangkat [untuk reviewnya saya tulis di halaman terpisah ya]. Beruntung kali ini ada teman kuliah saya yang bekerja di Yangon, berbaik hati untuk menjemput saya di bandara. Sebelum keluar bandara, saya sempatkan menukar selembar uang USD 100 di money changer, rate-nya saat itu 1,354 Kyat/USD. Kalau di Rupiahkan sekitar 10 rupiah/Kyat. Setelah menukar Dolar ke Kyat, saya membeli sim card dan paket data untuk memudahkan browsing dan mengakses google maps. Harganya 4500 Kyat atau seharga 47 ribu rupiah untuk akses internet 2 GB yang aktif selama 1 minggu.

dpenyet
D’Penyet, Resto yang menyediakan makanan Indonesia di Yangon, Myanmar

Setelah bertemu teman yang menjemput, sebelum ke penginapan kami mampir untuk makan malam.  Makan malamnya di sebuah rumah makan yang menyediakan makanan Indonesia tapi pemiliknya orang Malaysia, kokinya yang orang Indonesia. Pilihan makanan saya jatuh pada ayam penyet, iya, jauh-jauh ke Myanmar nyarinya ayam penyet ya hahaha… Soal makanan saya memang agak kampungan. Saya pernah muterin Istanbul untuk nyari nasi Padang. Saya tipikal orang yang jarang gonta-ganti pesanan makanan. Kalau sudah rasa enak, saya akan pesan makanan tersebut berulang-ulang.

Ayam-penyet
Ayam Penyet ala D’Penyet di Yangon, Myanmar

Setelah kenyang, teman saya lalu mengantarkan saya ke penginapan untuk check-in. Dan saya baru sadari kalau ternyata di Yangon, setir mobilnya ada di sebelah kanan tapi jalurnya juga ada di sebelah kanan, tapi driver kami yang bersarung itu sudah sangat handal mengemudikan mobil sedan yang kami tumpangi, saya yang ada di belakangnya rada deg-deg-an.

mobil-di-yangon
Setir mobil sebelah kanan tapi jalan di jalur sebelah kanan juga

Dan malam pertama di Myanmar saya lalui dengan manis…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here