Melihat Desa Perbatasan Negara Indonesia – Malaysia

0
2089
views

Minggu lalu Inspiring Traveller diminta oleh Wahana Visi Indonesia untuk menjadi Fasilitator Pelatihan Citizen Journalist di Sambas, Kalimantan Barat. Pelatihan ini diadakan selama 3 hari, mulai tanggal 20-22 November 2017. Pelatihan ini diikuti 20 orang yang berasal dari berbagai desa di Sambas. Sama seperti pelatihan yang sudah kami lakukan di tempat lain, kami mengajarkan mereka bagaimana mengambil gambar, mengedit video, wawancara narasumber, Piece To Camera dan membuat narasi. Harapannya adalah anak remaja dan pemuda dapat ikut berperan aktif mempromosikan potensi daerahnya agar lebih dikenal, baik oleh warga Indonesia maupun warga negara lain. Hal ini akan ikut membantu meningkatkan perekonomian masyarakat desa setempat.

Teluk Atong, Desa Temajuk, Kalimantan Barat
Teluk Atong, Desa Temajuk, Kalimantan Barat

Mungkin kamu belum tahu keindahan Pantai di ekor Pulau Kalimantan itu. Karena keindahannya sampai Malaysia saja ingin memilikinya. Seperti Tanjung Datu, di desa Temajuk, desa ini sempat menjadi sengketa antara Indonesia dan Malaysia. Desa tersebut berada di ujung Kalimantan ini persis bersebelahan dengan batas negara, hamparan pasir putih, penyu, ubur-ubur, batu granit dan pesona bawah lautnya menjadikan tempat ini seperti surga bagi pencinta pantai. Belum lagi bila masuk dalam hutannya, puluhan flora dan fauna masih asri dan ditinggali oleh berbagai spesies burung, hewan primata seperti kera, lutung, orang utan, kancil, bahkan ada beruang madunya.

Salah satu pantai di desa Temajuk, Kalimantan Barat
Salah satu pantai di desa Temajuk, Kalimantan Barat

Dulu tempat ini memang kurang diperhatikan, makanya jadi peluang bagi negara tetangga untuk ingin mengelolanya, karena kalau melihat di sisi Malaysia, pantainya memang lebih tertata rapi lengkap dengan fasilitas yang lebih baik. Tapi sekarang warga desa Temajuk ini mulai terlihat sadar akan potensi wisata desanya, mereka mulai membuat penginapan-penginapan instagramable dengan cara dicat warna-warni dan didesain dengan unik agar dapat menarik para wisatawan. Ada juga Rumah Terbalik yang kini jadi spot foto andalan warga desa Temanjuk dan sekitarnya serta batas-batas negara yang dibuat lebih jelas dan menarik untuk tempat berfoto. Atau seperti JLO Villa, yang mendesain penginapannya dengan gaya rumah pohon sehingga dari villa ini kita dapat melihat deburan ombak laut Natuna.

Villa Camar Bulan, Desa Temajuk, Kalimantan Barat
Villa Camar Bulan, Desa Temajuk, Kalimantan Barat

Lintas Batas Indonesia – Malaysia Di Temajuk, Kalimantan Barat

Di desa Temajuk ini terdapat batas negara Indonesia dan Malaysia. Cukup menggunakan kendaraan bermotor selama kurang lebih 15 menit, kita dapat sampai ke tempat wisata Telok Melano, Malaysia. Tidak perlu menggunakan paspor, karena di perbatasan ini tidak ada petugas imigrasinya. Di sisi Indonesia hanya terdapat pos TNI berukuran 2×2 meter yang dijaga oleh 2 orang tentara. Seharusnya saat melewati perbatasan ini kita wajib melapor pada tentara yang sedang berjaga, namun saya melihat pengendara motor baik itu dari Indonesia menuju Malaysia atau sebaliknya tidak berhenti untuk melapor, mereka bebas keluar masuk batas negara ini, mungkin karena tentaranya sudah mengenal semua orang yang lalu lalang di sini, entahlah….

Jalanan setapak menuju perbatasan ini ditutupi palang kayu berwarna merah putih. Ketika saya ingin melintasi jalanan ini menggunakan mobil, tentara tersebut tidak memberi ijin karena jalanan ini hanya boleh dilewati oleh motor ojek warga.

Menuju Batas Negara di desa Temajuk, Kalimantan Barat
Menuju Batas Negara di desa Temajuk, Kalimantan Barat

“Nanti warga disini marah mbak, karena itu mata pencarian mereka, jadi kalau mau lewat harus menggunakan ojek, nanti saya panggilkan ojeknya, permotornya 30 ribu PP” kata pak tentara.

“Oh gitu pak? Padahal jalanan ini masih jalanan negara ya pak? Jadi harusnya saya boleh lewat pakai mobil saya ya?” teman saya coba protes dikit.

“Harusnya begitu mbak, tapi itu mata pencarian mereka” kata pak tentara lagi.

“Ya sudahlah pak, mau gimana lagi kalau tentara saja takut sama warga, apalagi saya cuma warga biasa, kita jalan kaki aja ke perbatasan itu boleh?” tanya saya pasrah.

“Iya mbak, kalau jalan kaki boleh” jawab tentara tersebut.

Saya pun berlalu sambil mengucapkan terima kasih.

Batas Negara Indonesia - Malaysia di Desa Temajuk, Kalimantan Barat
Batas Negara Indonesia – Malaysia di Desa Temajuk, Kalimantan Barat

Senang juga melihat batas negara ini dibuat dengan jelas dan terlihat kokoh. Tapi agak miris lihat pos penjagaan TNI yang hanya terbuat dari papan yang beratapkan rumbiah. Semoga pemerintah segera memperbaiki pos ini dengan layak.

Pos TNI di Perbatasan Negara Indonesia - Malaysia di desa Temajuk, Kalimantan Barat
Pos TNI di Perbatasan Negara Indonesia – Malaysia di desa Temajuk, Kalimantan Barat

Lintas Batas Indonesia – Malaysia Di Aruk, Kalimantan Barat

Nah kalau perbatasan yang ini sangat membanggakan melihat perkembangannya. Pembangunan desa perbatasan ini mulai diperhatikan. Saya berkunjung ke Desa Sanjingan Besar untuk melihat perbatasan Aruk, dari Sambas jalanannya nyaris rata tidak ada gelombang. Semua jalanan mulus. Kalaupun ada hambatan, itu karena ada pekerja-pekerja jembatan yang sedang membuat jembatan yang lebih besar agar kendaraan truck & bus besar bisa melewatinya.

Jalan menuju Perbatasan Aruk, Kalimantan Barat
Jalan menuju Perbatasan Aruk, Kalimantan Barat

Ketika tiba di perbatasan, gedung imigrasinya tampak keren. Desain bangunannya dibuat seperti rumah panjang khas tradisional Dayak yang dibuat lebih modern. Ketika saya ke toilet, saya kagum karena menemukan toiletnya bersih dan dibuat mirip seperti toilet di mall. Gak menyangka kantor imigrasi sekeren itu ada di desa terpencil ini.

Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Aruk, Kalimantan Barat
Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Aruk, Kalimantan Barat

Kalau dulu perbatasan Aruk bisa ditempuh selama 6-7 jam, sekarang cukup 2 jam saja kita sudah bisa melewati perbatasan Indonesia menuju Kuching, Malaysia.

Produk Malaysia Di Perbatasan Aruk

Ketika saya berjalan menuju pagar batas negara di perbatasan Aruk, saya menemukan beberapa kendaraan minivan berplat Malaysia sedang parkir di sisi Indonesia, pemiliknya berjualan bahan pokok seperti beras, gula, telur, gas dengan tabung besar dan beberapa bahan makanan lainnya.

Mobil warga Malaysia yang berjualan bahan pokok makanan di perbatasan Aruk, Kalimantan Barat
Mobil warga Malaysia yang berjualan bahan pokok makanan di perbatasan Aruk, Kalimantan Barat

Awalnya saya pikir ini adalah pasar legal, sampai seorang yang berseragam tentara menghampiri saya “maaf, kamu wartawan kah?” tanyanya dengan ramah.

“Bukan pak, saya traveller, saya warga biasa yang hobi buat video dan jalan-jalan” saya pun menjawab sambil tersenyum.

“Mereka disini hanya berjualan bahan makanan untuk masyarakat di sekitar sini, memang ini ilegal, pasarnya di depan sedang dibangun, makanya berjualan disini” tentara tersebut mencoba menjelaskan.

Warga perbatasan membeli bahan pokok makanan dari warga Malaysia
Warga perbatasan membeli bahan pokok makanan dari warga Malaysia

“Buat saya tidak masalah pak, selama masyarakat disini bisa bertahan hidup. Memang sebaiknya menggunakan produk dalam negeri, tapi kalau hanya produk luar negeri yang saat ini dapat dijangkau yah menurut saya lebih baik menjangkau yang lebih terjangkau untuk dapat bertahan hidup ya, sambil menunggu produk dalam negeri dapat dijangkau oleh masyarakat.” Saya mencoba menenangkannya agar tidak merasa terganggu dengan kehadiran saya.

“Video buat youtube kah?” Tanyanya lagi.

“Iya pak, semua video traveling saya untuk di youtube saya pak, ada apa?” tanya saya lagi.

“Inikan ilegal ya, kasihan masyarakat disini kalau sampai ke Pemerintah Pusat lalu ini ditutup” ucap pak Tentara.

“Hmmmm gimana ya pak, pasti sudah ada yang upload video tentang ini selain saya, lagian kalau tau ini ilegal harusnya Tentara tidak berpihak pada yang ilegal, harusnya dikomunikasikan dengan Pemerintah Pusat agar dicarikan solusi terbaik, siapa tau nanti bisa dilegalkan pasar kaget ini, kalau menguntungkan masyarakat di sini pasti Pemerintah mengambil langkah yang tepat lah, saya percaya sama pemerintah sekarang ini…” jawab saya.

Warga perbatasan membeli gas 14kg kepunyaan Malaysia
Warga perbatasan membeli gas 14kg kepunyaan Malaysia

Saya sempat bertanya-tanya tentang harga bahan makanan yang dijual oleh pedagang Malaysia tersebut, seperti beras 10kg dihargai 25RM atau sekitar 80ribu Rupiah, lebih murah dibanding beras Indonesia seharga 130ribu per 10kg, gula pasir seharga 50RM per 15kg atau seharga 11ribu Rupiah/kg lebih murah dibanding dengan harga gula Indonesia sebesar 15ribu Rupiah, gas tabung 14kg seharga 40RM atau sekitar 132ribu Rupiah lebih murah bila dibanding dengan gas tabung 12kg Indonesia yang dihargai 160-170 ribu Rupiah per tabung, bahkan susu Milo buatan Malaysia seharga 60ribu Rupiah untuk ukuran 1kg lebih murah dibanding susu Milo buatan Indonesia yang dijual sebesar 95ribu Rupiah. Warga disini mengaku lebih suka dengan susu Milo buatan Malaysia, selain murah, rasa coklatnya lebih terasa dan lebih kental dan saya sependapat dengan mereka untuk soal susu ini.

Saya sangat berharap, setelah Pos Perbatasan Imigrasi dibuat megah, jalanan dibuat mulus, selanjutnya semoga harga bahan makanan ke daerah ini juga dibuat lebih terjangkau agar masyarakat di perbatasan dapat menjangkaunya sehingga tidak lagi membeli produk-produk negara tetangga.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here