Ketika Bertemu Maling di Qatar Airlines

0
475
views

Selama saya jadi penumpang pesawat, ini pengalaman yang bikin saya selama 4 jam di udara nggak bisa tidur. Jantung saya terus berdegup kencang dan duduk nggak tenang. Setiap kali maling beraksi, saya deg-deg-an. Yang ini deg-deg-annya beda ketika lihat si dia duduk di bangku kantin kampus dulu.

Saya menumpang pesawat Qatar ketika kembali dari Istanbul menuju Dubai. Karena pesawat Qatar ini adalah milik negara Qatar, maka saya harus transit dahulu ke Doha selama 45 menit. Ini pengalaman pertama saya terbang bersama Qatar dan pengalaman pertama saya melihat aksi pencurian di kabin pesawat.

Saya sudah merasa aneh ketika semua penumpang masuk ke dalam pesawat, 2 pria berpakaian kotak-kotak berjalan cepat berlawanan arah. Yah aneh aja, penumpang masuk, 2 pria ini malah balik ke arah keluar. Otomatis penumpang masuk terhalang karena ulah mereka. Tapi saya mencoba memaklumi 2 pria ini, mungkin letak seatnya kelewatan atau mereka salah arah. Entahlah…

Untitled-1
Maling Beraksi.

Setelah menaruh tas di kabin, saya duduk sambil melihat penumpang lain menyusun barang mereka di kabin sesuai dengan kursi mereka. Termasuk seorang pria Arab setengah baya yang menggunakan baju kandoorah lengkap dengan kaffiyehnya, berusaha menyusun koper kecil dan beberapa paper bag di kabin. Sementara di ujung sana seorang ibu sambil menggendong anaknya mencoba menaruh kopernya dibantu oleh pramugari. Setelah selesai, penumpang duduk lalu mengenakan sabuk pengaman.

Mata saya kembali melihat salah satu dari 2 pria berbaju kotak-kotak tadi kini sudah menggunakan jaket hitam. Mondar mandir lalu duduk persis di depan kursi saya, badannya dimiringkan ke kiri sambil melihat ke depan. Tapi 2 menit kemudian laki-laki itu berdiri dan pindah 5 baris kedepan. Hanya 2 menit di sana, laki-laki itu berdiri lalu berjalan balik ke arah saya dan duduk persisi di belakang pria Arab yang menggunakan kandoorah, matanya melihat ke arah kabin yang ada di atas kepalanya lalu melihat ke depan. Karena curiga dengan gerak geriknya, saya foto dengan sembunyi-sembunyi. Lalu maling itu naik ke kursi dan membuka kabin tempat pria Arab menyimpan koper dan paper bagnya. Saya makin curiga ketika gerakannya persis seperti maling: sebelum buka kabin, dia melihat ke bawah, seperti takut ketahuan, gerakannya nggak sesantai seperti mengambil miliknya. Walau saya deg-deg-an, saya berhasil merekam aksinya dengan smartphone saya ketika maling itu mengambil koper lalu membukanya, hanya saja saya nggak melihat apa yang di ambilnya. Setelah selesai, maling itu mengembalikan koper ke tempat semula, lalu buru-buru berjalan kebelakang tepat ketika suara pramugari terdengar mengingatkan untuk segera duduk dan memasang sabuk pengaman karena pesawat akan segera berangkat.

Si maling melirik kesaya, sepertinya tau kalau saya foto
Si maling melirik kesaya, sepertinya tau kalau saya foto.

30 menit pertama saya merasa aman, karena lampu tanda memasangkan sabuk pengaman masih menyala, artinya maling tersebut belum bisa melanjutkan aksinya lagi. Tiba-tiba saya teringat, tas kamera saya yang ada di dalam kabin. Makin deg-deg-an. Mau ambil tapi lampu sabuk pengaman masih menyala, nggak ambil takut keduluan sama malingnya hahahaha… Akhirnya, dengan gelisah saya tetap duduk sambil menatap lampu sabuk pengaman. Begitu lampunya mati, saya langsung berdiri untuk mengambil tas kamera saya. Legaaaaaaa…… Tapi bukan berarti deg-deg-annya hilang. Karena setelah itu teman si maling yang pakai baju kotak-kotak mulai berkeliaran, pindah dari tempat duduk 1 ke tempat duduk lain yang kosong. Sepertinya mereka bergantian. Kalau yang 1 beraksi, yang lainnya mengawasi dibelakang. Semakin lama semakin banyak kabin yang mereka buka. Saya menunggu giliran kabin saya dibuka. Saya lalu bertekad dalam hati, kalau malingnya buka kabin saya, akan saya laporkan. Eh belum semenit bertekad, si maling buka kabin saya! Beruntung tas kamera sudah saya amankan dan saya taruh di bawah kaki lalu talinya saya lilitkan di kaki.

Sebelum dia tutup kabinnya, saya segera berdiri dan berjalan ke belakang menuju toilet. Tas kamera dan ransel saya lilitkan ke kaki teman saya. Saya atur napas dulu sebelum keluar toilet, takut kayak di film CSI tiba-tiba malingnya berdiri di depan pintu hahahaha. Kebetulan saat keluar dari toilet ada pramugarinya sedang siapin minuman. Saya coba menjelaskan sambil menunjukkan video yang tadi saya ambil ketika malingnya beraksi. Agak susah menjelaskan menggunakan bahasa Inggris sambil deg-deg-an, karena hati dan otak sedang nggak sinkron, tapi syukurlah si pramugari mengerti. Dia lalu memanggil beberapa teman kerjanya untuk berdiskusi. Seorang pramugari merekam kembali video yang ada di handphone saya dengan handphonenya, sedangkan pramugara lain meminta pria Arab untuk memeriksa tasnya untuk melihat apakah ada yang hilang. Saya diminta duduk kembali ke kursi saya, karena perjalanan sampai ke Doha masih 3 jam lagi.

Layar di depan saya menunjukkan waktu tempuh Istanbul – Doha sekitar 1 jam lagi. Seorang pramugari menemui saya dan meminta saya untuk nggak langsung turun ketika tiba di Doha karena mereka sudah menghubungi kepolisian bandara untuk memproses maling-maling tersebut. “We already have their passport” kata pramugari itu. Saya makin deg-deg-an. “My next flight is Dubai, Doha is only for transit, so i have to hurry to catch the next flight, is it okay?” tanya saya, saya khawatir karena masalah ini saya ketinggalan pesawat. “Don’t worry, they will wait for you” jawab pramugari. “ok, thank you”.

Tepat ketika pesawat parkir sempurna, tidak seorang penumpangpun diijinkan turun, sehingga membuat penumpang bertanya-tanya. Saya diminta untuk menuju kelas bisnis, di sana saya melihat 2 orang polisi berdiri dan saya dipertemukan dengan malingnya, duhhhh!! Percuma dong saya tadi sembunyi-sembunyi ngelaporinnya biar nggak ketahuan, ehhh sekarang malah bertemu muka dengan muka. Adegan-adegan film CSI secara lebay terlintas di pikiranku. Sampe saya lupa videoin adegan penting ini. Setelah di interogasi oleh polisi, ternyata maling ini hanya membawa 1 tas ransel, itupun isinya hanya 1 baju, mereka juga tidak punya bagasi lainnya.

Endingnya, teman si maling yang pakai baju kotak-kotak akhirnya lolos karena saya nggak berhasil mem-videokan aksinya, hanya maling yang berjaket hitam yang ditangkap karena wajahnya jelas ada di video saya. Beruntungnya, teman si maling itu tiketnya hanya sampai di Doha, jadi saya nggak bertemu lagi dengannya, semoga….

Terima kasih untuk pramugari dan pramugara Qatar Airlines yang cepat bertindak. Ini pelajaran buat saya untuk nggak cuek ketika melihat aksi begituan dan akhirnya tas saya selalu saya gembok walau masuk ke bagasi kabin…

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here