TOBELO: Sekali Berlayar 4 Pulau Terlampaui

4
610
views
Pulau Kakara

Sepertinya semua orang tau bahwa pesona laut Indonesia Timur itu sangat indah. Makanya ketika sebuah undangan masuk ke email saya untuk meminta saya menjadi fasilitator pada pelatihan Citizen Journalist untuk remaja di Tobelo, Halmahera Utara saya langsung meng-iyakan. Susah untuk menolaknya. Padahal di tanggal yang sama saya juga punya kegiatan lain. Selain itu saya juga tertarik mengajak anak-anak mudanya untuk ikut mempromosikan daerahnya melalui wadah Citizen Journalist ini. Daripada hanya menggunakan gadget mereka buat selfi-selfi gak jelas, lebih baik ikut berpartisipasi meningkatkan potensi daerah mereka. Selain itu mereka juga bisa mendapatkan income bagi diri mereka sendiri melalui karya video mereka yang ditayang di stasiun tv.

Setelah sarapan di penginapan, saya dan teman saya langsung mencari BENTOR (becak motor). Bentor ini salah satu transportasi di Tobelo. Tujuan kami menuju pelabuhan Tobelo. Walau Bentor ini muat untuk 2 orang, tapi biayanya dihitung per orang, biayanya murah kok, jauh dekat hanya 5 ribu per orang. Ini transportasi andalan kami untuk keliling kota Tobelo ini. Jalanan masuk ke pelabuhan Tobelo ini berdebu, karena saat itu ada perbaikan jalan masuknya. Pelabuhan yang tahun 2016 diresmikan oleh bapak Presiden Jokowi ini saat saya datang belum juga rampung, sehingga pengendara motor atau Bentor harus extra hati-hati.

Bentor di Tobelo

Sampai di pelabuhan, pemilik Bentor dengan baik hati mengantarkan kami masuk ke dermaga perahu atau orang lokal menyebutnya Katinting. Kamipun bertemu dengan pemilik perahu, namanya pak Denis, warga asli Tobelo, tinggal di pulau Kumo. Pak Denis menawarkan mengunjungi 4 pulau dengan biaya 350 ribu. Orangnya ramah dan dengan senang hati menjawab pertanyaan-pertanyaan saya.

Perahu Kayu disebut Katinting

Setelah mengisi bahan bakar untuk perahu pak Denis, kamipun mulai berlayar. Sekitar 10 menit saya melihat di depan sana sekumpulan ikan besar berwarna hitam melompat di atas air, kira-kira ada 4 ekor. Saya kira itu adalah ikan lumba-lumba, tapi menurut pak Denis itu adalah ikan Hiu. “Ikan hiu disini tidak menganggu kok, kalau pagi saya sering lihat mereka” begitu kata pak Denis. Beruntung saya sempat merekam mereka dari kejauhan, karena ketika perahu kami mendekat, gerombolan hiu itu tidak terlihat melompat lagi.

Kami sampai di pulau pertama, pulau Pawole. Pulau ini tidak berpenghuni. Pasirnya putih halus. Airnya jernih. Dari atas perahu saya bisa melihat terumbu karang cantik yang ada di bawah. Ikan-ikan warna warni berenang mendekat ketika saya melemparkan biskuit. Di bawahnya terlihat bintang laut yang berwarna biru. Baru kali ini saya melihat yang biru. Biasanya bintang laut berwarna pink. Di sini cocok untuk snorkeling. Puas snorkeling, kami melanjutkan ke pulau berikutnya. Pak Denis sempat mengambilkan kelapa muda sebelum naik perahu. Rasanya manis dan segar.

Bawah Laut Pulau Pawole

Pulau kedua adalah Pulau Kakara. Pulau ini ada pemiliknya. Seluruh pulau ditanami pohon kelapa. Saya bertemu dengan ibu Ade, pemilik pulau ini. Dulu pulau ini bersih dan rapih, tapi sejak suaminya meninggal 3 bulan lalu, pulau ini jadi kurang terawat. “Merawat pulau ini tangan perempuan tidak mampu nak, apalagi ibu sudah tua” kata ibu Ade yang saya temui sedang menyapu sampah-sampah yang berserakan. Ibu Ade menyiapkan penginapan dengan 2 kamar. 1 kamar bisa ditempati 4 orang. Biaya perkamar 250 ribu/ malam untuk WNI dan 300 ribu/malam untuk WNA. Karena di pulau tidak ada rumah selain milik bu Ade, maka bu Ade menyiapkan makanan untuk yang menginap, ibu Ade mematok harga 100 ribu/orang/hari, 3 x makan.

Pulau Kakara

Setelah pulau Kakara, kami melanjutkan ke Pulau Rarangane, jaraknya hanya 20 menit dari pulau Kakara. Pulau ini unik, garis pantainya jauh banget karena ada batu karang yang rata dari pulau ke tengah laut. Di sini kita berasa berjalan di atas air. Hanya saja harus menggunakan alas kaki, karena batu karang di sini agak tajam, jadi hati-hati ya.

Pulau Rarangane

Pulau terakhir adalah pulau Kumo. Inilah pulau tempat pak Denis tinggal. Pulau ini dihuni kira-kira 300 orang dewasa. Jarak dari kota Tobelo hanya 10 menit ditempuh dengan perahu. Sabtu atau minggu pulau ini ramai dikunjungi masyarakat Tobelo untuk berwisata. Hanya sayangnya pantai ini kotor. Kata pak Denis, sampah tersebut terbawa ombak dari kota. Menurut saya, masyarakat Tobelo memang masih kurang sadar untuk membuang sampah pada tempatnya. Sampah-sampah kemasan air mineral juga berserakan di pulau Kumo, padahal sudah disediakan tempat sampah, tapi justru tempat sampah yang disediakan tersebut kosong. Harus ada kerjasama antara pemerintah dan warganya untuk menjaga keindahan pulau-pulau di Tobelo ini.

Pulau Kumo

Kami menghabiskan waktu hari ini dengan duduk dipinggir pantai di pulau Kumo. Sambil menikmati ikan goreng dan pisang goreng yang kami beli di warung milik seorang ibu yang ada di pulau Kumo ini. Pak Denis banyak bercerita tentang pulau Kumo dan kota Tobelo. “Mbak tidak buru-buru kan? Kita santai saja disini, duduk-duduk lihat ikan” kata pak Denis. “Loh bapak nggak cari penumpang lagi?” Tanyaku. “Hari ini sudah cukup dapatnya mbak, bisa buat makan keluarga” jawab pak Denis.

Hingga matahari terbenam, kamipun kembali ke kota.

4 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here