HOTEL BIANDA: Hotel Melati di Tobelo, Halmahera Utara

0
717
views
Depan Hotel Bianda, Tobelo, Halmahera Utara

Kali ini saya mau review hotel yang saya tempati sewaktu ke Tobelo, Halmahera Utara. Review ini menurut pengalaman saya. Saya menceritakan apa adanya ya.

Hotel Bianda tempat saya menginap ini bukan pilihan saya. Beruntung saya punya kenalan yang bekerja di Tobelo sehingga dia membantu saya memilihkan tempat penginapan. Hotel ini dipilih sesuai pesanan saya: tengah kota dan murah. Saya coba cari hotel di internet, tapi  informasinya sangat sedikit. Hotel ini terdiri dari 3 lantai. Tanpa lift, tapi tenang, pasti ada tangga. Lumayan buat olahraga. Ada 3 (tiga) tipe kamar yang bisa jadi pilihan di hotel ini: Deluxe, ratenya 450.000/malam, Superior ratenya 330.000/malam dan Standard dengan rate 260.000/malam. Harga tersebut sudah termasuk sarapan.

Kamar standard yang saya tempati cukup luas, sayangnya kamar ini berbau apek, mungkin karena lembab. Kamar ini dilengkapi TV, kamar mandi tanpa air panas, air mineral, handuk, sabun dan pasta gigi. Kamar mandinya juga luas, hanya saja saat itu wastafelnya mampet sehingga tidak bisa digunakan. Tidak ada air panas, tapi karena kota Tobelo cuacanya panas, jadi saya tidak membutuhkan air panas lagi. Untuk sarapannya setiap pagi ganti-ganti, hanya 1 menu setiap pagi. Hari pertama nasi kuning, hari kedua nasi goreng dan hari ketiga dapat 3 macam kue dan saya lupa kue apa saja hahaha…

Kamar Mandi Hotel Bianda
Kamar Standard Hotel Bianda

Lokasi hotel ini dekat dengan warung-warung makan, sayangnya saya tidak menemukan warung makanan khas Tobelo. Kebanyakan disekitar hotel ini adalah warung makan pecel ayam, sate ayam, sate kambing, dan gerobak goreng-gorengan.

Hotel ini tidak mempunyai info tentang city tour atau tour untuk mengunjungi pulau-pulau di Tobelo. “kalau mau ke pulau langsung saja ke pelabuhan, nanti bisa langsung naik perahu di sana” resepsionis hotel menjelaskan ketika saya bertanya apakah ada yang dapat mengurus tour ke pulau-pulau. Menurut resepsionisnya, hotel ini jarang didatangi wisatawan mancanegara, bahkan pelancong lokal seperti saya. Kebanyakan tamu hotel ini adalah pemerintah daerah  atau kantor-kantor swasta yang mengadakan rapat. Kalaupun ada wisatawan, kebanyakan mereka hanya transit sehari lalu keesokan harinya langsung menyebrang ke pulau Morotai. “Di Morotai lebih bagus mbak, di Tobelo ini gak ada apa-apanya, makanya sepi” kata resepsionisnya. Saya sedih mendengarnya, padahal kota Tobelo ini punya banyak tempat wisata kece walau tidak terurus.

Menurut saya, perlu dilakukan pelatihan untuk resepsionis hotel yang ada di Tobelo untuk belajar bagaimana menjelaskan potensi daerahnya kepada wisatawan yang datang ke Tobelo. Semoga pemerintah daerah, pengusaha dan masyarakat di Tobelo mau bersinergi untuk membangun wisata Tobelo untuk kesejahteraan bersama.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here