Doi Pui Waterfall di Chiang Mai, Thailand

0
334
views
Doi Pui Waterfall di Chiang Mai, Thailand

Pagi-pagi buta saya sengaja melewatkan sarapan lezat Ms. Nuy, pemilik penginapan yang selalu ceria. Selain bosan makan roti dan telur, saya juga takut kolesterol dan bisulan. Setiap pagi, Ms. Nuy menghidangkan 2 lembar roti yang dipanggang secara basa basi dan 2 butir telur, entah itu diceplok, diorak-arik atau direbus. Porsinya selalu 2 butir, syukur bukan cuma saya yang diberi 2, jadi saya tidak merasa kolesterol sendiri.

Udara pagi memang di sini dingin, sekitar 20 derajat celcius. Saya siap pakai jaket, masker dan helm. Motor pagi itu dipinjamkan gratis oleh Ms. Nuy, “You can bolloow my motolbike, cause you stay so longggg” kata Ms. Nuy dengan logat Thailandnya. Tentunya saya sambut kebaikan hatinya dengan riang gembira. Makanya saya ngga mau rugi, harus dipakai semaksimal mungkin. “thank you Ms. Nuy, you are very kind, i will use your motorbike for tomorrow morning, at 5am and i will give you back the day after tomorrow ya”. Ms Nuy melotot tanda tak setuju. Setelah melotot dia tertawa.

Kali ini tujuan saya sebuah desa yang ada di atas gunung Chiang Mai. Kira-kira 2 jam perjalanan, jalannya berkelok-kelok, mengingatkan saya pada kebun papa saya di kampung halaman. Sebelah kiri jurang, sebelah kanan tumbuhan pohon-pohon yang udah kering tapi tidak juga mau mati. Saya tidak jalan sendirian, ditemani travelmate saya dan seorang cowok Vietnam yang baru saja kami kenal di penginapan. Orangnya ramah, murah senyum dan pemberani. Dia berani ngintip ke dalam rumah-rumah penduduk lokal. Dia selalu penasaran dengan kehidupan masyarakat lokal. Kalau di Indonesia mungkin udah digebukin karna disangka mau nyulik anak kecil hahaha…

Kami berhenti di beberapa tempat, mampir ke pinggir jurang yang sudah diberi penghalang besi. Pinggir jurang ini disukai para wisatawan, tapi banyak juga warga lokal berhenti di pinggir jurang ini, ada yang membawa pasangannya untuk sekedar duduk-duduk sambil bersenda gurau dan ada yang datang sendirian untuk sekedar melamun sambil menatap jauh ke bawah. Dari sini kita dapat melihat kota Chiang Mai. Dua orang bule sengaja membawa meja dan kursi lipat untuk duduk sambil menikmati sebotol bir. Mereka menunggu sunset. Niat banget… ?

Kami melanjutkan perjalanan berkelok kelok itu tanpa berhenti, agar pulang nanti tidak terlalu malam. Temannya si cowok Vietnam sudah mengingatkan bahwa kami harus kembali sebelum jam 5 sore, karna tidak ada lampu jalan, jadi sudah dipastikan akan sangat gelap.

2 jam kemudian, kami sampai di sebuah desa, disambut dengan banner-banner berukuran 1x1meter yang bergambar Raja Thailand dan beberapa tulisan yang tidak dapat saya baca. Saya sengaja parkir dekat dengan penjual strawberry agar saya dapat mengingat motor yang saya gunakan. Saya cuma berharap, penjualnya tidak pulang sebelum saya kembali.

doipui-gate
Pintu Masuk Doi Pui Waterfall

Desa ini dipenuhi kios-kios penjual souvenir dan buah-buahan, semua dikelola oleh warga desa. Penghasilan mereka tergantung seberapa banyak turis yang datang. Untuk masuk ke dalam desa dipungut biaya 10 Baht. Bapak penjaganya bilang di dalam ada taman dan air terjun. Kami bertiga makin semangat berjalan kaki menyusuri desa itu. Penduduk disini setiap hari menggunakan pakaian khas daerah, anak-anak yang bermain atau orang dewasa yang sedang bekerja didepan rumah atau yang hanya duduk kongkow-kongkow juga menggunakannya. Mungkin ini yang jadi daya tarik desa mereka.

Saya terus berjalan, sudah tidak sabar saya melihat air terjun di desa itu. Kata bapak penjaga karcis masuk tadi, air terjun ada di pinggir taman bunga. Ini berarti bukan air terjun yang biasa saya temui. Jarang ada air terjun di sampingnya ada taman bunga. Biasanya air terjun itu temanan sama hutan bukan taman bunga. Saya percepat langkah kaki, sengaja juga biar ninggalin cowok Vietnam itu berdua sama travelmate saya, siapa tau mereka berjodoh hahaha

Makin semangat pas liat bunga-bunga yang berwarna-warni. Si cowok Vietnam ternyata suka bunga. Dia berhenti pada kumpulan bunga-bunga warna ungu, difoto, dicium, difoto lagi trus nanya ke saya: you know whats the name of this flower? Saya ikut memperhatikan apa yang dia tunjuk. Bunga itu kecil-kecil. Saya tidak mau mencium bunga itu karna trauma di masa lalu. Seorang teman memberikan bunga kecil, warnanya indah, dengan gagahnya dia berkata “Arnie, coba kau cium bunga ini, seperti bau permen” Tidak pakai mikir, saya langsung cium bunga itu, sedetik kemudian saya muntah-muntah. Bahhhh bau tai ayam!!

doipuigarden
Taman Bunga di Doi Pui Waterfall

Saya menghampiri seorang ibu yang memandikan anaknya di bawah pancuran, bertanya letak air terjun desa mereka. Ibu itu mengarahkan telunjuknya ke seberang kolam besar buatan warga. Walau pakai bahasa tubuh, saya mengerti, air terjun yang saya cari ada di sana. Agak susah menemukan air terjun itu, karna tidak terdengar suara air jatuh. Saya mulai was-was, mungkin yang akan saya temui bukan air terjun, tapi air ngesot.

Saya sulit menggambarkan perasaan saya ketika perkiraan saya itu benar. Airnya benar-benar ngesot pemirsahhh…

Airnya mengalir pelan, pelan sekali. Pedih… !

doipuiwaterfall
DOIPUI Waterfall Garden

Bukan karna harga masuknya, tapi keringat yang saya keluarkan tidak sesuai dengan yang saya harapkan. Saya lihat lagi di sekeliling desa itu, apa yang bisa saya liput untuk mengganti waktu yang terbuang percuma ini.

Cowok Vietnam itu memberi kode untuk turun kebawah, ke rumah yang beratap ijuk. “Come, come… Try to get inside, that house is unique, it has no wall, only roof!!” serunya. Karna tadi udah putus asa, saya akhirnya nurut, ngintip rumah orang. Rumahnya kosong, barang-barangnya berantakan. Saya buru-buru pergi sebelum disangka maling sama tetangganya. “See… it’s unique right? they can see mountain from inside the house!” katanya sambil tertawa. Unik apaan, yang gitu di kampung saya juga banyak hahaha…

Jarak 100 meter dari rumah itu, saya bertemu ibu yang tadi memandikan anaknya sedang duduk di sebuah pondok bambu sambil menunggu padi yang ditumbuknya. Penumbuknya pakai tenaga air. Airnya berasal dari air terjun yang ngesot itu. Kreatif. Walau sedikit demi sedikit, tapi lumayan bisa menghemat tenaga. Ibu itu bisa menumbuk padi sambil mandiin anak atau memasak.

alat-tumbuk-padi-doi-pui
Alat Penumbuk Padi Tenaga Air

Saya duduk dekat dengan ibu itu, lalu  mencoba untuk ngobrol, tentunya dengan bahasa tubuh, cukup tunjuk alat penumbuknya lalu ajukan jempol. Ibu itu mengangguk dan senyum. Saya anggap ibu itu mengerti.

Akhirnya, daripada menghabiskan waktu di sini, kamipun kembali, sebelum matahari terbenam, sebelum tukang strowberry pulang, saya segera kembali ke parkiran.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here