Nawar Sadis di Night Bazaar, Chiang Mai

0
268
views
Nigiht Bazaar di Chiang Mai, Thailand

Kemarin malam saya mengunjungi Night Bazaar Chiang Mai, sebuah kehidupan malam para pedagang lokal. Menurut saya, mereka adalah pejuang perekonomian kotanya dan juga keluarganya. Deretan pedagang kaki lima memajang dagangannya di sisi-sisi jalan, mirip sebuah kawasan di kota pelajar yang saya tinggali selama 9 tahun (entah ngapain saja saya dulu disana, kok betah banget hahaha). 90 persen pengunjung Night Bazaar ini dari mancanegara, iya, termasuk saya dong, walau saya tidak beli, cuma liat-liat dan foto-foto saja. Paling tidak saya bisa memanjakan mata malam ini. Saya kurang memperhatikan apa saja yang mereka jual, karna itu bukan tujuan saya hari ini. Saya suka memperhatikan siapa pembelinya, bagaimana pelayanan si penjual, tawar menawarnya bagaimana, berapa perbedaan harganya. Saya sengaja duduk di sebuah coffee shop ternama, mencari sofa empuk di samping jendela. Sekalian ngadem dan nyari wifi.

Jam 6 sore waktu itu, masih terlalu terang untuk disebut malam, semua pedagang beres-beres untuk menggelar dagangannya, tiang-tiang meja dan atap dipasang. Di kejauhan seorang wanita bekerja seorang diri, tanganya lincah dan cekatan. Mungkin karena sudah sering dia mengerjakannya, cukup 20 menit saja semua tiang-tiang sudah terpasang kokoh dan siap untuk digunakan. Canggih kamu mbak…

Pernak Pernik di Night Bazaar, Chiang Mai, Thailand

Saya masih duduk dengan cappuccino nikmat di tangan, sambil memperhatikan gerak tubuh penjual dan pembeli. Walau penjual tidak bisa berbahasa inggris, mereka akan siap menjawab dengan bahasa tubuh atau dengan sigap menekan angka-angka di kalkulatornya. Mirip waktu saya tawar menawar di pasar Shenzhen dulu.

Segera segera saya berkemas setelah jualan tumbler saya terposting indah di medsos. Iya, saya seperti mereka, berdagang juga untuk keberlangsungan perekonomian dan travelling saya. Makin gelap di sini makin rame. Saya keluar untuk mengetahui proses tawar menawar itu. Sengaja saya menanyakan harga baju yang sebelumnya sudah saya tanyakan di pasar dekat penginapan. Penjualnya seorang anak muda, dia memberikan harga 450 Baht untuk baju yang saya tunjuk, saya menggeleng karna baju yang sama itu diberi harga oleh ibu tua di pasar dekat penginapan cuma 200 Baht. Saya coba tawar 150 Baht, sadis memang, namanya juga coba-coba. Gantian dia yang menggeleng. Saya berlagak balik badan, dia buru-buru tunjukin jarinya 4, saya menggeleng, dia ambil kalkulatornya, mendekat dan menekan angka 300, saya tetap menggeleng, dia pasrah, dibiarkannya saya pergi.

Tawar Menawar di Night Bazaar, Chiang Mai, Thailand

Jarak 100 meter, saya mencoba bertanya lagi pada seorang wanita muda, baju yang sama, dia bilang 550 Baht, “alamakkkkk, mahal kali lah tuh mbakkkk…”
Si wanita itu ketawa, sepertinya dia tau kalo saya keberatan sama harga itu, dia tunjukin 2 jarinya, saya tanya kenapa tadi kasih harga 550 kalau bisa 200? “maybe you want hahaha” jawab mbaknya. Saya juga ketawa, kami tertawa bersama. Saya yang tadinya tidak ingin belanja, akhirnya sekarang menenteng tas plastik.

Saya salut sama penjual disini. Harga yang mereka tawarkan hanya terpaut 2x lipat dari harga sebenarnya. Mereka sadar bahwa dagangan mereka menarik wisatawan namun tidak serta merta memberikan harga setinggi langit. Sebelumnya saya terkaget-kaget ketika menanyakan harga perhiasan manik-manik di Myanmar, mirip buatan tangan orang Indonesia, harganya 5x lipat harga penginapan saya. Ketika saya balik badan, wanita Myanmar itu meminta saya untuk menawar dagangannya, saya menggeleng, saya takut menawar, takut dia marah atau menangis. Ketika saya menjauh, penjualnya langsung teriak kasih diskon 80% dari harga pertama. Yahhhh namanya juga usaha ya…

Saya ingat dulu di China, saya mendapatkan koper besar seharga 180rb kalau di rupiahkan, penjualnya memberikan harga pertama 850 CNY, saya tawar 150 CNY, dia marah, ngomel-ngomel dan bilang ke saya: secinping! Saya ketawa, karna saya gak ngerti sampai teman travel saya ngasih tau artinya. Iseng aja nawar, sapa tau dia mau.
Setelah beberapa toko, akhirnya saya dapat harga 160 CNY. Nahhhh kannnnn… kannnnn…

Pernah juga di Malioboro, tanya sendal jepit, penjualnya kasih harga 250 ribu, saya bingung mau nawar berapa, bapaknya turunin harga jadi 200 ribu, saya diam pura-pura mikir, takut nawarnya, trus diturunin lagi 100 ribu, saya pura-pura balik badan, dan bapaknya teriak “30 ribu mbak”. Astaga, saya kaget, saya gak ngerti cara berdagang model begini, apakah beliau punya perhitungan khusus atau berdasarkan hoki, entahlah, mungkin setiap orang punya cara berbeda dalam berdagang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here