Ms. Nuy: Pemilik Penginapan Yang Ramah & Ceria di Chiang Mai, Thailand

0
262
views
Ms. Nuy & Pacarnya, Pemilik Penginapan LIKE HOME di Chiang Mai, Thailand

Saya sampai di Chiang Mai jam 4.30 pagi setelah menempuh perjalanan 10 jam dari Bangkok. Biaya bus dari Terminal Mo Chit, Bangkok ke terminal Arcade, Chiang Mai sebesar 500 Baht. Bus tingkat ini sudah agak tua tapi cukup nyaman buat saya yang berbadan agak langsing, tapi untuk yang berbadan agak lebar seperti teman saya, dia harus menderita kaki bengkak, kram dikit dan pegel bagian belakang.

Bus Bangkok – Chiang Mai

Hanya ada 1 terminal bus di Chiang Mai. Terminal ini tampak sepi karena hari masih gelap. Hanya ada 3 supir tuk-tuk yang menawarkan jasanya, termasuk pak Ari. Sudah dari semalam dia menunggu penumpang, tapi belum ada yang menggunakan jasanya. Saya setuju dengan harga yang diberikan, entah itu mahal atau murah. Saya tunjukkan peta tujuan saya yang sudah saya print dari rumah. Pak Ari langsung tersenyum dan berkata “i know i know, one hundred Baht”. Saya langsung mengangguk mengiyakan. Saya senang bertemu pak Ari,  ketawanya lucu, ketawa tulus, gak dibuat-buat. Walau sudah tua, dia mampu melaju di tengah dinginnya pagi, cuma 10 menit saya sudah tiba di penginapan yang sudah saya booking sejak di Myanmar kemarin.

Tuk Tuk di Chiang Mai, Thailand

Ketika sampai, penginapan itu masih sepi, ruangan di bagian dalam gelap, pintu bagian depan terkunci. Saya pencet bell berkali-kali tapi sia-sia, tidak ada yang keluar, mungkin pemiliknya masih tidur. Saya meletakkan ransel besar saya disamping kursi. Meja-meja di depan hotel ini tersusun rapi seperti cafe kecil. Di atas meja masih lengkap bahan campuran makanan seperti saus tomat, garam, gula dan mayones. Tidak ada pagar yang menutupi halaman tempat meja-meja itu tapi mejanya masih tersusun rapi. Berarti maling di sini tidak tertarik sama pelengkap rasa makanan ini.

Nuy bangun setelah ayam berkokok berkali kali. Lampu dalam dinyalakan, tanda adanya kehidupan. Melihat saya di luar, dia melambai-lambai dari dalam, mungkin maksudnya hai atau tunggu sebentar. Saya ikut melambai-lambai dengan maksud: buruan buka pintu please, banyak nyamuk disini. Senyumnya barengan pintu yang dibuka, lebar gitu deh, “Sawaddee Ka” dia memberi salam sambil tertawa riang. Saya balas kasih salam khas Indonesia. Kami bersalam-salaman. Nuy minta maaf karena dia telat bangun sehingga kami menunggu lama.

Saya sudah baca review penginapan ini. Walau gak sebagus hotel, tapi pemiliknya punya service yang bisa nutupi jeleknya penginapannya. Review nya saya tulis di halaman yang berbeda ya.

Hotel LIKE HOME di Chiang Mai, Thailand

Nuy menawarkan sarapan gratis pagi ini, seharusnya sarapan pertama saya besok pagi. Mana tega saya menolak sarapan di saat kelaparan begini, langsung saya sambut dengan lapang dada. Dia senyum bahagia ketika saya berkata “yes, thank you”. Berarti jawaban saya membahagiakan…

Jam 8 pagi, setelah roti dan telur ceplok yang dia hidangkan sudah saya habiskan, dia bilang kalau kamar yang saya booking masih dipakai orang, jadi saya harus duduk menunggu di sini lebih lama lagi. Harusnya dia check out pagi ini, tapi karna kamarnya pakai AC jadi pada telat bangun, begitu kira-kira terjemahaan kata-katanya. Saya pasrah saja, sudah kenyang gini masa mesti ngambek hahaha…

Nuy terus menemani kami ngobrol sambil menyapu halaman. Dia menata kembali sepeda dan motor yang diparkir tamu dengan sembarangan. “I’m a wonder woman, strong woman” katanya sambil ketawa sendiri. “I do everything by myself” lanjutnya sambil bersih-bersih meja.

Nuy menamai penginapannya dengan nama “LIKE HOME”. Dia bilang di sini kamu akan merasakan seperti di rumah sendiri. Memang benar sih, karena di dalam saya melihat sepasang manusia duduk mepet sambil selonjoran, mungkin persis kayak dirumahnya sendiri. Sementara di bagian depan para backpacker ramai bercengkrama sambil duduk dengan 1 kaki dinaikin di kursi, mirip kayak saya kalau duduk  di rumah hahaha

Pas jam 12, saya akhirnya bisa masuk ke kamar. Nuy membantu saya menggotong ransel saya yang berukuran 65 liter. Sebelum masuk kamar Nuy berpesan untuk tidak melewatkan makan malam di penginapan ini, dia akan masak mango sticky rice, “no pay, no pay” begitu katanya, sambil tertawa dan berlalu. Saya juga ikut tertawa… Iyalah, tertawa, masa saya harus nangis diajak makam malam gratis hahaha…

Ahhh nyaman banget liat kasur. Saya langsung meluruskan badan bentar, mandi dan siap berburu makanan enak di kota ini. Semoga angin di Chiang Mai tidak membuat saya bertambah gemuk… aminnnnn…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here