Melintasi Perbatasan Mesir – Israel

0
549
views
Taba Border at Egypt

Langit masih cerah ketika saya dan rombongan tour melintasi desa kecil daerah perbatasan yang bernama Taba. Bus kami melewati beberapa tentara penjaga perbatasan. Bus yang saya tumpangi harus berhenti terlebih dahulu di sebuah pos penjaga sebelum saya dan rombongan masuk ke imigrasi Mesir. 2 orang tentara masuk dan memeriksa bagian dalam bus. Walau sudah sering diperiksa, saya tetap saja gugup bila melihat tentara dengan senjata masuk ke dalam bus.

Saat itu imigrasi Mesir sepi ketika bus yang kami tumpangi berhenti di parkiran dan tour guide mempersilahkan kami turun dan mengambil semua koper di bagasi bus. Saya mengucapkan selamat tinggal pada tour guide yang sudah menemani saya dan rombongan selama di Mesir. Sungguh pengalaman yang tak terlupakan. Suatu hari nanti saya akan menjelajahi kota-kota lainnya di Mesir.

Saya menggeret koper melewati pagar loket dan masuk ke dalam ruangan kecil untuk melewati x-ray. Saya meletakkan koper saya di conveyor x-ray untuk di cek. Karena rombongan yang bersama saya kebanyakan ibu-ibu yang berumur di atas 50 tahun, saya akhirnya mengambil trolley agar bisa membantu membawa koper-koper mereka. Loket imigrasi Mesir ini benar-benar minimalis. Staf yang bertugas juga tidak banyak, bahkan ketika kami sampai di loket hanya 1 staf yang bertugas membagi kartu untuk kami isi. Setelah mengisi semua yang diminta, saya mendorong trolley menuju imigrasi Israel yang berjarak kira-kira 1 km dari Imigrasi Mesir. Tapi ternyata, trolley Mesir tidak boleh masuk ke Imigrasi Israel. Akhirnya, saya jalan sambil menggeret beberapa koper masuk ke ruangan imigrasi Israel di Eilat.

“Shalom” begitu sapaan para tentara Israel yang berjaga di ruangan imigrasi Israel kepada kami. Kebanyakan tentaranya adalah wanita yang dilengkapi senjata. Walau sudah sering melewati perbatasan, saya tetap saja masih gugup. Saya tetap pasang senyum termanis saya dan selalu saja berhasil. Tentara-tentara itu juga ikut tersenyum. Bukan berarti saya lolos pemeriksaan karena tersenyum ya, paling tidak wajah garang mereka berkurang karena senyumnya dan saya jadi tidak gugup lagi.  Koper-koper kami kembali melewati x-ray.

Oh iya, rombongan yang  bersama saya semua warga negara Filipina, jadi yang warga negara Indonesia hanya saya dan teman saya. Karena Filipina memiliki hubungan diplomatik dengan Israel, maka mereka bebas visa selama 30 hari. Karena itulah, pemeriksaan untuk warga negara Filipina termasuk cepat.

Pada saat saya masuk untuk pemeriksaan paspor, saya lolos tanpa banyak pertanyaan, tapi ketika giliran teman saya, petugas imigrasi memeriksa dengan teliti. Sayup-sayup saya dengar dari kejauhan suara tentara wanita menginterogasi teman saya, “are you the tour leader?” “why you come to Israel?” “mention some places you want to visit in Israel!”. Entahlah apa yang dijawab oleh teman saya yang akhirnya tentara itu membawanya ke pojok ruangan, lalu memeriksa semua isi koper dan tasnya. Lalu dengan menggunakan sebuah alat deteksi (saya juga baru liat alat tersebut), tentara itu memeriksa pegangan tas, koper dan juga paspor. Alat tersebut akan menyalakan lampu hijau bila tidak mendeteksi apapun, artinya teman saya bersih dari bahan-bahan yang mencurigakan. Kopernya juga dibuka dan terlihatlah beberapa cup mie instant yang dia bawa dari Dubai. Tidak puas dengan hasil alat deteksinya, tentara tersebut memanggil temannya dan memintanya untuk check track reccord traveling teman saya. Mungkin kurang yakin, mereka memanggil tour guide rombongan saya untuk di Israel nanti lalu menginterogasinya. Namanya Hasan, pria berkebangsaan Palestina itu menjelaskan kepada kami bahwa petugas imigrasi mempermasalahkan cap Dubai yang ada di paspor teman saya dan mengapa  ada warga Indonesia bisa bersama warga Filipina datang bersama. “i told them i don’t have right to tell people not to go to Dubai, it’s their right to go anywhere” kata Hasan. Akhirnya teman saya diberi ijin untuk masuk ke Israel. 1 jam kami menunggu teman saya selesai diinterogasi dan saya bersyukur datang bersama rombongan yang penyabar. Mereka mau menunggu bahkan menghibur saya kalau semua akan berjalan dengan baik.

Ahhhh akhirnya… selamat datang di Israel!

Note: maaf, saya hanya berhasil mengambil 1 foto. Selain dilarang, saya juga sibuk ngebantuin bawa koper ibu-ibu yang kopernya beranak karena kebanyakan belanja 😀

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here