Menikmati Dinginnya Gunung Sinai, Mesir

0
564
views

Setelah menghabiskan 3 malam di Kairo, siang itu rombongan saya bertolak menuju Gunung Sinai. Sepanjang jalan, bus yang saya tumpangi melewati tebing dan gunung batu, semua pemandangan itu terlihat berwarna coklat dan tandus. Yang menyenangkan di perjalanan ini adalah semua orang di rombongan saya senang bernyanyi, sehingga ketika melawati gurun yang gersang selama 6 jam pun tetap ramai dan menyenangkan.

jalan-menuju-sinai-2
Jalan Menuju Gunung Sinai

Tapi saat bus sampai di Terusan Suez, semua orang tiba-tiba terdiam. Bus berjalan lambat. Saya merapatkan wajah di kaca jendela bus mencoba melihat apa yang terjadi. Tiba-tiba guide kami berseru “everyone please be seated, don’t look at the window!”. Saya langsung menjauhkan wajah saya dari jendela. Saya sempat melihat para sniper tentara Mesir mengawasi bus kami dari kejauhan dengan senapannya. “no photo please!” suara guide terdengar lagi ketika salah seorang dalam rombongan kami mencoba mengambil gambar. Selama 1 jam keadaan seperti mencekam. Apalagi ketika bus yang kami tumpangi berhenti dan 2 tentara lengkap dengan senjatanya masuk ke dalam bus dan memeriksa paspor kami satu persatu. Beberapa menit kemudian, bus kami masuk ke dalam terowongan Suez, tapi kami tidak dapat berhenti dan mengambil foto karena Terowongan Suez termasuk zona militer Mesir.

jalan-menuju-sinai
Jalan Menuju Gunung Sinai

Kami bisa bernafas lega ketika bus menjauh dari pos para sniper tadi, kami bisa kembali bernyanyi untuk membuang rasa bosan di dalam bus. Saya berandai-andai, kalau saja saya tidak ikut rombongan ini dan dapat memilih untuk menyusuri jalanan terowongan suez sendirian, mungkin terasa seru perjalanan ini. Hanya saja saya baru tau kalau ternyata setelah melewati pos para sniper, ada banyak perampokan bus turis, itu mengapa setiap bus turis yang akan menuju Gunung Sinai terdapat 2 orang pengawal yang membawa pistol dan senjata laras panjang. Merekalah orang-orang yang ditempatkan di depan untuk berperang ketika ada penyerangan-penyerangan yang tidak terduga.

polisi-bus
Polisi Yang Selalu Bersama Kami di Bus…

MORGENLAND VILLAGE di Semenanjung Sinai di Mesir

Sore hari, matahari masih terik namun udaranya dingin menusuk tulang ketika saya tiba di Kota St. Catherine’s, sebuah kota di Semenanjung Sinai di Mesir yang berada pada ketinggian sekitar 1600 meter dari permukaan laut. Bus rombongan saya berhenti tepatnya di sebuah hotel bintang 3, MORGENLAND VILLAGE, tempat saya menginap hari ini. Di hotel ini saya berkenalan dengan seorang pria berkebangsaan Mesir yang lancar berbahasa Indonesia. Dia salah seorang pemilik toko souvenir di hotel Morgeland. “satu orang Indonesia yang datang kesini bisa menghabiskan uang 500-1000 USD di toko saya, makanya saya harus bisa bahasa Indonesia” katanya. Saking banyaknya orang Indonesia yang datang ke penginapan ini, di lobby hotel terdapat toko souvenir bernama “Mangga Dua”, pemiliknya berkebangsaan Mesir, tapi toko ini tidak ada hubungannya dengan Mangga Dua Jakarta.

morganland
MORGENLAND VILLAGE

GUNUNG SINAI

Ketika malam kira-kira pukul 11 malam, kami naik ke bus untuk menuju ke Gunung Sinai. Gunung ini tidak asing di telinga saya. Saya bahkan sudah mendengarnya sejak saya berumur 6 tahun. Saya senang dengan cerita Nabi Musa. Senang ketika guru sekolah minggu di gereja saya bercerita tentang Musa naik ke atas gunung dan menerima perintah langsung dari Tuhan. Dan saya saat ini di sini, menuju gunung Sinai di mana Musa bertemu Tuhan.

Dari parkiran bus, saya berjalan kaki menuju tempat berkumpulnya unta yang akan membawa saya naik hingga ke puncak gunung Sinai. Seorang pria Mesir pemilik unta berjalan di samping unta, sedangkan saya duduk di atas untanya. Namanya Ahmed, sudah sejak kecil dia menemani bapaknya membawa turis untuk naik ke gunung Sinai ini. Sudah tidak terhitung berapa kali Ahmed mondar mandir naik turun gunung ini, bahkan Ahmed mengenal setiap tikungan jalan yang harus dilewati oleh untanya. Hampir semua pemilik unta di sini dapat berbicara bahasa Inggris, tanpa kursus katanya.

with-ahmed
Bersama Ahmed

Jam 1 dini hari. Jaket yang saya gunakan masih kurang tebal untuk dapat menahan dingin, semakin ke atas semakin dingin. Malam ini saya harus menahan ngantuk. Guncangan unta membantu saya untuk tetap terjaga ketika mata saya terpejam. Semua kami sepertinya kelelahan, tidak ada suara lagi yang terdengar, hanya suara batu yang terinjak oleh unta. “Ahmed, are you sleepy?” tanyaku. “No maddam” jawab Ahmed. Saya mencoba memecahkan sunyinya malam dengan mengajak Ahmed ngobrol agar saya tidak tertidur. Dari ceritanya, Ahmed adalah anak pertama. Ayahnya sudah tua sehingga tidak bisa lagi untuk naik turun gunung ini, sehingga dialah yang menjadi tulang punggung keluarganya. Saya kembali mengingat cerita Musa ketika naik ke gunung ini, umurnya lebih dari 80 tahun. Umur sebanyak itu tentulah sudah tua untuk dapat turun naik gunung, tapi ternyata tidak bagi Musa, kekuatannya tidak hilang walau Musa sudah berumur 120 tahun.

1,5 jam di atas unta cukup membuat pegal. Saya tiba di sebuah kedai kecil yang menjadi satu-satunya pemberhentian untuk turun dari unta. Kami harus melanjutkan dengan berjalan kaki karena jalanannya menanjak sangat tinggi sehingga tidak dapat dilalui oleh unta. Mungkin karena kandungan oksigen berkurang di atas ketinggian, saya merasakan sesak sehingga susah untuk bernafas. Saya merelakan rombongan saya untuk naik ke puncak dan saya harus menunggu mereka di kedai sambil mengatur nafas dan menghilangkan sesak. Walau saya tidak bisa melihat matahari terbit di puncak gunung Sinai ini, saya sudah cukup merasa senang bisa berada disini.

gunung-sinai
Turun Gunung Sinai

Jam 3 pagi, kami turun dengan berjalan kaki. Guide kami tidak menyarankan untuk menggunakan unta saat turun gunung. Benar saja, di depan saya seekor unta terjatuh ketika melewati turunan, untung saja unta itu tidak terguling sampai ke bawah. Perjalanan turun saya tempuh selama 2 jam. Dari gelap sampai terang. Dan barulah saya lihat bahwa yang saya lewati adalah gunung tandus tanpa ada pepohonan. Di bagian bawahnya seperti padang gurun gersang. Mungkin di situlah bangsa Israel menunggu Musa turun dari atas gunung Sinai setelah bertemu dengan Tuhan.

Lembah-bawah-SInai
Lembah Gunung Sinai

Di bagian bawah gunung Sinai, ada sebuah biara yang dikenal dengan nama Saint Catherine’s Monastery. Biara ini termasuk salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO. Khusus untuk ini akan saya ceritakan di artikel yang berbeda ya.

Setelah selesai menjelajahi gunung Sinai, saya kembali ke hotel untuk sarapan dan melanjutkan perjalanan saya ke Israel melalui Perbatarasan Taba.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here