Jadi Tahanan Imigrasi MESIR

0
680
views
Arnie Simanjuntak at Cairo Airport

Bulan November saya mengunjungi Mesir. Kedatangan saya dalam rangka ikut Holyland Tour. Tour ini mengunjungi 4 negara: Mesir, Israel, Palestina, Jordania. Sebenarnya perjalanan ini tidak saya rencanakan. Kebetulan travel agent yang mengurus tour ini adalah rekanan dari perusahaan di Dubai yang meminta saya mengerjakan project mereka. Saya segera mengiyakan tawaran itu ketika bos menanyakan apakah saya mau wisata ke Holyland. Mana mungkin saya menolak travelling gratis yang saya idam-idamkan ini. Dan berangkatlah saya dan teman saya ke Holyland melalui Dubai.

Immigration at Cairo Airport

Dengan menggunakan maskapai Emirates Airlines, jam 12 siang kami berdua sampai di negara pertama: Mesir. Saat antri di depan imigrasi, seorang pria Mesir melambaikan tangan ke arah saya. Saya menebak dialah orang yang mengurus visa kami. Mungkin karena hanya saya dan teman saya yang berwajah Indonesia sehingga dia langsung mengenali. Tapi ketika sampai di depan petugas imigrasi, drama ini dimulai. Petugas memeriksa paspor saya lalu melihat ke monitor di depannya untuk memeriksa sistem. Kemudian dia bertanya “where is your group?”. Saya bingung, “just the 2 of us” jawab saya. “Where is the other one?” Tanya petugasnya. Lalu saya memanggil teman saya, memintanya maju dan menyerahkan paspornya. Melihat petugas agak lama memeriksa paspor kami, pria Mesir itupun masuk menghampiri petugas, berbicara dalam bahasa mereka seperti mencoba menjelaskan. Saya lega. Tapi tidak lama kemudian kami diminta petugas untuk mengikutinya ke dalam sebuah ruangan, termasuk pria Mesir itu ikut masuk.

Sambil berjalan masuk, pria Mesir itu berbisik ke saya “tenang saja, saya akan selesaikan ini”. Ehhh ternyata dia bisa berbahasa Indonesia. Saya tertawa.
“Bagaimana kamu bisa berbahasa Indonesia?” Tanyaku. “Saya pernah belajar di Jogja 6 bulan di pusat bahasa UGM” jawabnya. Oh good, semoga masalah ini segera selesai.

Kami diminta duduk di kursi kayu di depan meja polisi imigrasi. Ada 4 polisi disana. 1 polisi sedang menginterogasi seorang pria, dari kulitnya sepertinya dia dari Afrika, tangannya diborgol. Sedangkan di ujung sana seorang wanita berwajah cantik, sedang menangis sambil berbicara lewat telepon genggam, tangannya juga diborgol. Lalu dari sebuah ruangan berpintu kecil di sebelah kanan saya keluar seorang wanita dengan tangan diborgol menghampiri wanita yang menangis tadi. Mungkin saudara atau temannya. Mereka menangis bersama.

Saya menarik nafas panjang, tiba-tiba saya galau, resah dan gelisah melihat semua tangan diborgol. Mata saya sibuk mencari-cari pria Mesir yang mengurus visa kami tadi. Kemana perginya. Kenapa dia biarkan kami di sini bersama orang-orang yang diborgol tangannya. Kebayang kalau-kalau tangan saya juga harus diborgol. Saya memejamkan mata.

30 menit kemudian, pria Mesir itu datang menghampiri kami, mencoba menjelaskan masalahnya. Ternyata visa kami adalah visa group sehingga kami hanya bisa masuk kalau datang bersama group. Kami tidak boleh masuk ke Mesir karena kami hanya datang berdua. Pria itu meyakinkan kami bahwa masalah ini bisa diselesaikan karena akan datang group jam 9 malam nanti. Ok lah, saya sabar menunggu. Saya mengucapkan terima kasih karena sudah membantu kami. Paling tidak kami tidak menyelesaikannya sendiri. Pria Mesir itu sangat bertanggungjawab. Dia menjelaskan ke semua petugas tentang masalah kami agar kami berdua bisa menunggu disini, karena petugas di situ hanya bisa berbahasa arab.

Jam menunjukkan angka 6, petugas-petugas di situ satu persatu keluar. Sisa 1 petugas yang masih sibuk menulis di buku besar. Saya berjalan menuju mejanya, minta ijin untuk membeli makanan, tapi petugasnya pakai bahasa isyarat, kepalanya geleng-geleng dan tangannya dadah-dadah. Saya anggap itu tandanya kami harus menahan lapar. Kalau saya mungkin bisa tahan, tapi kasihan teman saya, kayak mau mati karna lapar katanya. Tidak lama kemudian masuk 2 petugas baru. Sepertinya mereka gantian untuk piket. Petugas yang menulis tadi menutup bukunya lalu ikut keluar ruangan itu. Mata saya sudah mulai lelah. Saya kangen kasur. Pengen rebahan. Saya coba pejamkan mata, memikirkan empuknya kasur tapi kaget ketika seorang pria membangunkan saya, seorang petugas menggunakan bahasa Arab, meminta kami untuk masuk ke ruangan bersama orang-orang yang diborgol tadi. Dia juga minta kami untuk membuka tas yang kami bawa, semua barang harus dititipkan. Ngantuk saya langsung hilang seketika. Saya coba menjelaskan dengan bahasa inggris bahwa kami hanya menunggu rombongan di sini, bukan sebagai penjahat atau penyelundup. Tapi petugasnya menggeleng. Haduhhhh menggeleng apa maksudnya, tidak boleh kah, atau tidak ngerti kah… Jantung saya rasanya mau copot. Tangan petugas itu lalu digerak-gerakkan seperti menyuruh kami mengeluarkan isi tas yang kami bawa. Laptop, HP, kamera dan dompet saya keluarkan. Semua saya letakkan di mejanya. Tapi beruntung petugas yang sibuk menulis tadi tiba-tiba masuk ke ruangan. Melihat saya menaruh barang-barang di meja petugas, dia lalu menghampiri temannya seperti menjelaskan kalau kami tidak perlu masuk ke ruangan kecil itu. Petugas itu lalu menyuruh saya memasukkan kembali barang-barang saya ke dalam tas. Petugas tadi hanya bilang sorry lalu meminta kami duduk kembali. Lega banget. Thank God.

Waktu menunjukkan jam 9 malam, pria Mesir itu muncul membawa 2 kotak makanan. Dia minta maaf karena tidak bisa menemani kami di sini, karena harus mengurus beberapa hal. Dia juga mengabarkan bahwa group kami datang jam 3 subuh. Group dari Manila. “Pesawat dari Manilanya delay sehingga akan terlambat masuk ke Mesir” katanya mencoba menjelaskan. Saya mengangguk lesu tanda mengerti. Pria Mesir itu menunjuk sebuah ruangan yang ada di sebelah kanan saya “di dalam ada air minum, kalian bisa ambil air minum disitu ya” katanya. Saya melirik ruangan yang ditunjuk dan mengangguk lagi. “Wah kebetulan, saya dari tadi penasaran, di dalam itu apa ya, kok rame” ujar teman saya. Memang dari tadi setiap ada yang keluar atau masuk, dia mencoba untuk melihat ada apa saja di dalam. Lalu dia beranjak dan masuk untuk mengambil air minum. Ternyata di dalam seperti penginapan backpacker. 2 Kamar yang isinya tempat tidur susun. 1 kamar untuk perempuan, 1 kamar lagi untuk laki-laki. Rata-rata tangan mereka semua diborgol. Pantes teman saya buru-buru keluar, ternyata di dalam bau, panas dan sumpek.

Jam di ruangan imigrasi memunjukkan pukul 3 dini hari. Berarti sudah 13 jam kami menunggu. Badan pegel. Ngantuk. Sakit kepala. 2 orang petugas yang berjaga tetap waspada. Makin malam wajah mereka makin garang. Pria Mesir tiba-tiba masuk, lalu ngobrol dengan petugas. Petugas ngangguk-ngangguk. Lalu pria Mesir itu menghampiri kami dengan wajah ceria. “Hallo, selamat datang di Mesir. Ini paspor kalian, visanya sudah ditempel” katanya bersemangat. Wuihhhh kompak kami hore-horean. Kami lalu berkemas. Saya langsung membayangkan kasur hotel yang empuk.

Visa Egypt

13 jam yang melelahkan. Tapi semua terbayar dengan perlajanan yang menyenangkan. Thank You God.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here