White Sand Dunes, Red Sand Dunes dan Wisata Di Selokan ala Mui Ne, Vietnam

0
424
views
Jeep di Mui Ne, Vietnam

Saya tidak pernah menggunakan paket tour saat travelling. Bukannya anti sama paket tour gitu, ini karena dana saya terbatas makanya selalu berpikir bagaimana pergi tanpa travel agent. Tapi waktu saya ke Mui Ne, Vietnam, saya terpaksa ikut paket tour yang ditawarkan oleh penginapan. Saya tertarik ke Mui Ne karena ada wisata padang pasirnya. Daripada jauh-jauh ke timur tengah untuk lihat padang pasir, mending liat yang dekat-dekat dulu lah.

Mui Ne punya 2 padang pasir: White Sand Dunes dan Red Sand Dunes. Bila kesana harus menggunakan mobil jeep. Ada 2 pilihan paket tour: pagi dan sore. Kalau mau lihat sunrise berarti harus pilih yang pagi, dan bila ingin lihat sunset, pilih yang sore. Biayanya 168 ribu Dong atau sekitar 85 ribu Rupiah per orang. Selain wisata padang pasir, driver jeepnya akan membawa kita ke Fisherman Village dan Fairy Stream tanpa tambahan biaya.

Pagi jam 5 driver jeep sudah menjemput saya dan teman saya di penginapan. Kami adalah penumpang pertama. Masih ada 4 orang lagi yang harus dijemput di penginapannya masing-masing. Hanya kami berdua dari Indonesia, 2 orang Kanada dan lainnya dari Amerika. Mobil jeep ini setengah terbuka, sehingga angin dingin menerpa wajah kami, padahal saat itu suhu di Mui Ne 20 derajat celsius, lumayan dingin.

Tujuan pertama adalah menunggu matahari terbit di White Sand Dunes. Jalanan berdebu membuat kami semua kompak menutup wajah dengan jaket agar debu tidak masuk ke dalam mata. Perjalanan ditempuh sekitar 20 menit, langit masih gelap. Di tempat parkir jeep tersedia motor atv yang bisa kita sewa untuk naik ke atas white sand dunes. Tarifnya 200 ribu Dong per 30 menit atau setara dengan 100 ribu Rupiah. Tapi untuk lebih menikmati padang pasirnya, kami memilih berjalan kaki.

Berjalan kira-kira 30 menit, akhirnya kami sampai di tempat di mana orang-orang menunggu matahari muncul. “Wahhh ternyata rame di sini ya, kirain bakal sepi…” teriak temanku kesenangan. Tiba-tiba cowok di sebelahku bertanya “dari mana mbak?”. Ahhh, akhirnya saya bertemu orang Indonesia. 1 dari Makassar, 1 lagi dari Bandung. Kami ngobrol banyak, termasuk rencana backpacker kami sebulan kedepan. Mereka menceritakan scam yang mereka alami di Vietnam. Setelah matahari menampakkan cahayanya, kamipun berpisah.

Tujuan berikutnya ke Red Sand Dunes. Kalau yang pertama putih, yang di sini warnanya kemerahan. Warnanya seperti batu bata. Pasirnya sama halus. Di White Sand Dunes ada ATV, kalau di Red Sand Dunes ada papan seluncuran, papannya bukan dari kayu, tapi dari plastik. Sekali meluncur tarifnya 20 ribu Dong atau setara 10 ribu Rupiah. Karena matahari bersinar terang, maka kami memilih untuk jadi penonton saja di bawah pohon.

Red Sand Dunes, Mui Ne, Vietnam

Dari Red Sand Dunes, kami menuju ke Mui Ne Fishing Village. Sebenarnya bukan kampung, lebih tepatnya pantai tempat parkir kapal-kapal dan perahu nelayan. Perahu nelayan Vietnam menurut saya unik, karena bentuknya bulat dan terbuat dari plastik. Beda banget sama perahu nelayan Indonesia. Di sini tempat nelayan-nelayan menurunkan ikan hasil tangkapannya. Tercium dari bau amis ikan yang sangat tajam. Kami berada di sini hanya 5 menit, cukup melihat dari kejauhan.

Fishing Village, Mui Ne, Vietnam

Selanjutnya kami menuju ke Fairy Stream. Menurut drivernya, tempat ini cocok untuk menenangkan pikiran. “Just walk slowly” kata pak driver. Kami meng-ok-kannya. Kira-kira 10 menit, kami diturunkan di pinggir jalan. Pak driver menunjukkan jalan menuju lokasi Fairy Stream tersebut. “Only 30 minutes, i will wait here” kata pak driver. Kami kompak menjawab “ok!”. Kami lalu melewati jalan kecil yang tidak beraspal lalu belok kiri menuruni tangga yang dibuat seadanya dan menemukan sebuah sungai kecil dengan air yang dangkal. Tadinya saya ragu untuk menyusuri sungai kecil ini karena airnya yang berwarna kecoklatan.

Fairy Stream, Mui Ne, Vietnam

“Kamu gak akan tau apa yang ada di sana kalau gak lewati ini” kata teman saya. Akhirnya saya turun juga. Lumayan dingin airnya. “Ayo balik ajalah, cuma sungai gini aja kok, banyak di Indonesia” saya coba ajak teman saya balik. “Mungkin di sana ada yang bagus, terusin ajalah” temanku menolak. Dia berjalan terus, saya mengikutinya. Di ujung sana kami bertemu lagi dengan 2 orang Indonesia yang tadi kami temui di White Sand Dunes, mereka tertawa. “Hahaha… kalau yang begini di kampung saya juga banyak mbak” kata cowok asal Bandung. “Hebat ya mereka, ngga punya tempat wisata, selokanpun dijadiin tempat wisata, hahahaha…” kata teman saya.┬áMemang agak susah menjelaskan tempat wisata terakhir ini. Sebuah sungai kecil yang di ujungnya terdapat batu kapur bercampur tanah merah. Airnya dangkal. Mungkin ini satu-satunya sungai yang ada di Mui Ne sehingga dijadikan tempat wisata.

Setelah puas tertawa, kamipun kembali.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here